Terkadang
Aku menatap ke langit
Berbicara dengan bintang
Yang kadang menjawab,
Memecah keheningan malam
Sepertinya
Hanya dengan alam aku berbicara
Walaupun, cahaya matahari pun
Kelihatannya takkan menembus
Kerinduanku
Yang sepertinya
Telah menjerumuskanku terlalu dalam
Kerinduanku
Kepada seorang wanita
Yang bagiku
Telah mengukir
Terlalu banyak kenangan
Di papan kehidupanku
Telah lama kami bersama
Menyambut mentari
Mengalir bebas
Menyusuri angan,
Mengitari putaran hidup
Yang perlahan
Melambat..
Saat itu
Saat di mana
Tuhan memutuskan
Untuk menghentikan putaranku
Untuk memanggilku
Menarikku
Dengan sehelai benang,
Benang tragedi
Sungguh ironis,
Tepat pada saat di mana
Aku berniat untuk menjaganya,
Mendekapnya,
Memeluknya,
Melindunginya,
Justru
Aku yang terluka
Aku terbaring
Di sebuah ranjang kehampaan
Lemas
Tak berdaya
Di mana aku.. Melihatnya
Menangis
Di pangkuanku
'Jangan pergi..'
Bisiknya lirih.
Dia menatapku, pedih
Air matanya mengalir deras.
Memintaku untuk tinggal
Sayang,
Andai aku bisa
Melawan lemahku
Andai aku bisa
Bangkit dari takdirku
Andai aku bisa
Terus menemanimu
Tapi
Tuhan tak mengizinkanku
Giliranku, telah datang
Untuk kembali kepadaNya.
Sayang,
Maafkan aku
Maafkan segala kesalahanku
Maafkan segala perkataanku
Yang mungkin menyakiti hatimu
Maafkan segala perbuatanku
Yang mungkin melukaimu
Maafkan segala janjiku
Yang tak sempat ku tepati
Maafkan aku
Karena mendahuluimu
Maafkan aku
Karena tak bisa menemanimu
Maafkan aku
Karena meninggalkanmu
Walaupun aku akan pergi
Walaupun aku, takkan bersamamu lagi
Berjanjilah
Kau takkan melupakanku
Karena aku
Akan selalu hadir menemanimu
Di hatimu, selalu.
Rafi
27 Agustus 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar