26 Agustus 2013

Untukmu, Sayang

Hidupku
Membosankan
Tak punya tujuan
Tak ada pegangan
Tak ada..
Pendamping

Sampai saat itu
Saat di mana
Aku bertemunya
Saat di mana
Aku melihat wajahnya
Saat di mana
Aku menatap matanya

'Salam kenal'
Senyumnya, bagai bulan sabit dalam malam
Matanya, bagai mercusuar dalam badai
Rambutnya, bagai rangkaian sutra
Kecantikannya, tak tergambarkan

Hari demi hari
Aku terus memperhatikannya
Memperhatikan wajahnya
Yang tetap indah
Walau terkadang
Senyumnya menghilang

Sampai tiba saatnya
Saat di mana
Kuberanikan diriku
Memberikan cintaku
Tapi, Tuhan berpikir yang lain
Air matanya jatuh,
'Maaf, aku tidak bisa'

Lalu
Di wajahnya
Kembali terukir senyum manisnya
Walaupun kali ini
Aku tahu
Ukiran itu palsu
Dalam hatinya,
Ia menangis
Terisak

Mungkin, cerahnya matahari
Tak cukup bagiku
Untuk menyadarkanku.
Mungkin, derasnya hujan
Takkan memberitahuku
Bahwa, di balik senyumnya
Ada sakit yang terpendam

Kuharap, angin kan membawaku
Ke sebuah tempat
Di mana, kesedihan
Hanyalah sebuah mitos belaka

Mungkin itu semua
Takkan terjadi
Karena, di dunia ini
Selalu ada kesedihan
Yang selalu menghantui.

Aku tahu, ia telah pergi
Aku sadar, aku takkan mendapatkannya
Aku terima, aku takkan bertemunya lagi

Walaupun begitu,
Aku tetap berdo'a, untuknya
Tuhan, tabahkan dirinya
Tuhan, mudahkan segala cobaannya
Tuhan, ukirkan kembali senyumnya
Tuhan, tolonglah
Temani dia.

Sayang?
Kuharap kamu membaca ini
Karena, ini,
Coretan cinta ini,
Untukmu, sayang.




















Rafi
26 Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar