4 September 2013

Tertutup Kabut

Bimbang
Mungkin itu kata yang paling tepat
Untuk menggambarkan keadaanku saat ini
Setelah hidup menjegalku
Setelah asa
Bertiup pelan
Menjauhiku, perlahan

Aku terbangun
Di landai asing tak bertuan
Sepertinya
Mimpi 
Telah menyeretku pergi
Jauh
Dari buai kasih ibu pertiwi

Aku berdiri redup
Dengan gentar menyelimutiku.
Kulihat di kejauhan,
Cakrawala
Mengayunkan lengannya
Melukis kabut abu-abu
Menutupi sinar mentari

'Sedikit lagi'
Kabut berbisik kepadaku
Sembari mengulurkan tangannya
Mengajakku
Untuk bangkit dari takdirku

Aku berjalan
Menyisir pasir tandus
Menapak kaktus yang layu
Menjejaki debu
Menuju seutas cahaya
Cahaya itu..
Terang

Tanganku mendongak maju
Menyentuh cahaya itu
Rasanya..
Lembut
Halus
..Hangat

Saat itulah aku sadar
Aku tak boleh menyerah
Walaupun hidup mencegatku
Mendorongku,
Membantingku,
Aku sadar
Masih ada dirinya
Yang akan senantiasa
Melukiskan cakrawala
Dengan kuas rembulan
Di kanvas kehidupanku
Yang terlihat abu-abu, 
Tertutup kabut.


















Rafi
4 September 2013

2 komentar:

  1. jikalau kita tak lebih dari dua titik yang ingin menyatu, maka; simpanlah ini dalam kalbu
    "aku, akan mencintaimu. lebih dari mimpiku, lebih besar dari jarakmu, terhadapku."

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi aku rasa, laut akan tetap memisahkan kita

      Hapus