18 Desember 2013

Dalam Pelukanku

'Dorong!' teriak suster
Aku memegangi istriku, erat
Erangannya yang pilu,
Keringatnya yang mengalir deras

Ia berhenti,
Dokter menunduk
Menatap kami berdua.
'Maafkan kami' katanya

Istriku menangis histeris.

… 

Sebuah pagi yang cerah
Dentuman jendela membangkitkanku dari mimpi
Tirai merahku tak mau berhenti bergoyang
Sebuah siluet tertangkap di hamparan cahaya matahari
Siluet seorang wanita.

Rambutnya melambai seperti bunga dandelion
Tangannya yang bertolak pinggang
Dengan tangan satunya menutup mulut
Menunduk.

Kubuka tirai merahku
Dia berdiri di sana,
Air mata menuruni pipinya
Dia melihatku, tersenyum
Mengecupku sunyi.


Secangkir kopi terhidang di hadapanku
Dia menatapku dari dapur
Terisak
Tersenyum terpaksa,
Ada apa, sayang?

Dia memegangi perutnya,
Terjatuh.
Gelas kaca pecah di sisinya,
Seiring dengan botol obat tidur, kosong.
Aku memegangnya, erat
'Maafkan aku' bisiknya.


Tubuhnya terbaring di dalam peti
Terlelap damai
Tersenyum tipis.

Aku meletakkan melati terakhirku,
Bunda memelukku, erat
Terisak.
Aku terjatuh,
Berlutut, menghadap tubuhnya
Menangis keras.
Berteriak.

Kenapa?
Kenapa kamu memutuskan untuk menyerah?
Ingatkah janji yang kita buat?
Bagaimana dengan kalimat sehidup semati?
Bukankah kita menjalani hidup ini bersama?
Apakah kamu berharap aku untuk bertahan?
Tanpamu?

… 

Sayang?
Aku tersesat,
Maukah kamu kembali padaku?
Ke dalam pelukanku?

















Rafi
18 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar