Sebangun beton berdiri di intaian tipis cakrawala
Disinari secercah cahaya matahari
Sorotan kobar api menyala di puncak benara
Merasuki jiwa yang sepi
Robekan cat putih berdarah di sisi dinding
Goresan tangan di bayang-bayang kaca pipih
Dentuman ombak membasahi pijakan batu
Memecah keheningan rindu yang saru
Di bayang abu-abu karang merah,
Terduduk seorang putri raja
Menatap sunyi, ke ujung samudera.
Menunggu kedatangan sang pangeran muda.
Kelam seperti meraung
Dari gelapnya aura Mercusuar Putih,
Satu persatu, sang putri menanggalkan busana hitamnya
Melangkah perlahan, menuju pintu kayu
Menatap sepasang mata merah di depannya.
Balutan awan bak kapas turun menutup horizon
Gertakan petir meledak mengiringi tetesan hujan
Membasahi dinding karat rapuh,
Memadamkan sorotan api di pucuk
sang Mercusuar Putih.
…
Kelabu kabut memudar
Cakrawala kembali bersinar,
Harapan kembali hadir
Mewarnai atmosfer jiwa.
Pintu kayu terbanting keras
Sayup-sayup cahaya menyinari latar.
Terlihat
Sosok tubuh telanjang sang putri raja,
Dengan leher terikat tambang coklat
Berayun di tengah ruangan,
Mengikuti irama senandung malam
sang Mercusuar Putih.
Rafi
21 Desember 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar