Wahai dikau
Embun pagi yang memanjat turun menara kayu
Aku tak bisa sekedar mengabaikan ronamu
Terdambakan kupotret langkahmu
Walau hanya jejakmu yang terpaku
Tak rata potret itu di kepalanku
Seraya berangan bisa menatapmu
Tetapi satu hal yang tak disadari kalbu
Mekarlah debu yang menyihirmu pilu
Debu dari beribu tahun kau berpacu
Kini jejakmu kelupas digigiti waktu
Dan tak lelah aku termangu
Menghamba potretmu yang dahulu
Berharap menatap suci dirimu
Yang kini tak lebih dari sekadar abu
03:11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar